Gempa Aceh Bikin Trauma! Ini Dia teknologi Atasi Gempa

Indobot Update

KeTahukah kalian? Gempa Magnitudo 5,4 dengan parameter update M 5,2 mengguncang wilayah pantai barat Sumatera, Simeulue, Aceh, Rabu 22 Februari 2023 pukul  02.22.19 WIB. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, pusat gempa berada pada koordinat 1,99° LU ; 94,34° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 231 Km arah Barat Daya Sinabang, Aceh pada kedalaman 55 km.BMKG menginformasikan bahwa gempa Aceh  ini tidak berpotensi tsunami. Meski begitu, warga di imbau tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas kegempaan di zona outer rise. “Kepada masyarakat di himbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat di pertanggungjawabkan kebenarannya,” kata Daryono. BMKG juga meminta warga menghindari dari bangunan yang retak atau rusak di  akibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun  tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah. Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang di timbulkan akibat gempa tersebut. teknologi atasi gempa

Peristiwa Tsunami Aceh 2004 Silam

Jika di ingat kembali Aceh merupakan daerah di Indonesia yang pernah di landa Tsunami besar. Pada tanggal 26 Desember 2004 silam, sebuah gempa dahsyat melanda Aceh dengan kekuatan 9,3 skala richter (SR). Gempa tersebut menimbulkan serangkaian tsunami yang tak hanya menimpa Aceh, tapi juga Sri Lanka, Thailand, hingga India, menurut laman Museum Tsunami Aceh. 

Saat warga masih kaget dengan gempa, mereka kembali di kejutkan dengan kenaikan air laut. Air terus meninggi hingga 30 meter. Bahkan, di Lhoknga, Aceh Besar, air laut naik menyapu daratan setinggi sekitar 51 meter. Masyarakat Serambi Mekah, yang tinggal di pesisir atau berada di pinggir laut, berusaha menyelamatkan diri. Ketika air laut surut, sekitar 170 ribu nyawa warga melayang akibat peristiwa tersebut. Para relawan datang ke Tanah Rencong untuk menguburkan jenazah secara massal seperti di Siron, Aceh Besar, dan Ulee Lheue, Banda Aceh. Kini, wilayah Siron dan Ulee Lheue di kenal dengan kuburan massal korban tsunami Aceh. Dengan adanya peristiwa tersebut, kini pemerintah harus lebih berhati hati jika terjadi gempa di daerah Aceh atau wilayah Indonesia yang lain. 

Teknologi Menanggulangi Gempa

Oleh karena itu ada baiknya, kita sebagai generasi penerus bisa memberi penyuluhan terhadap Warga Indonesia. Karena dampak dari gempa sendiri cukup merugikan besar. Kita bisa mengatasinya dengan cara. Membuat teknologi yang dapat mendeteksi adanya gempa sehingga kita bisa menyiapkan diri kita terhadap bencana yang akan datang. Pemerintah juga terus mencari solusi terhadap masalah ini. Terkadang peringatan dari pemerintah tidak sampai ke sebagian besar masyarakat, karena perlu di ketahui bahwa Indonesia itu luas. Terdiri dari beberapa pulau dan daerah. Itulah yang menjadi hambatan pemerintah. Namun kita bisa mengatasi hal tersebut dengan membuat teknologi yang dapat mendeteksi gempa di tiap rumah. Teknologi apa sih yang bisa kita buat? 

1. Earthquake Warning Alert System (EWAS) 

teknologi atasi gempa
teknologi atasi gempa

Earthquake Warning Alert system (EWAS) adalah sebuah sistem yang berfungsi memberikan tanda peringatan gempabumi kepada masyarakat secara otomatis dan sangat cepat. Sistem peringatan dini ini di harapkan dapat meningkatkan rasa aman sekaligus kewaspadaan masyarakat di daerah-daerah rawan bencana gempabumi yang frekuensinya terus meningkat. EWAS memberi tanda peringatan gempabumi berupa bunyi sirine yang keras di tengah masyarakat tepat saat guncangan gempa terjadi. 

EWAS efektif mendeteksi guncangan gempa dan membunyikan alarm peringatan dalam waktu kurang dari 5 detik. Sistem EWAS dibangun dari sejumlah detektor getaran tanah (node) yang di pasang di suatu lingkungan pemukiman, misalnya suatu desa atau kelurahan. Setiap node saling berkomunikasi melalui gelombang radio. Sehingga jarak antar node tergantung dari jangkauan komunikasi radio antar node. Sejauh ini Sistem EWAS yang sudah terpasang jarak antar nodenya sekitar 200-300 meter. Ketika satu buah node mendeteksi adanya getaran, belum tentu node di sekitarnya mendeteksi getaran di saat yang sama. Sebab bisa jadi sumber getaran sangat dekat dengan node yang mendeteksi getaran. Misalnya akibat dari kendaraan besar yang melintas di dekat node dan getarannya terdeteksi node. Atau bisa juga berasal dari aktivitas sekelompok orang di sekitar node yang sedang melakukan pekerjaan konstruksi bangunan. Getaran lokal seperti itu tidak akan terdeteksi oleh node lain yang berjarak 200 – 300 meter. Jika sebuah node mendeteksi getaran, ia akan berkomunikasi dengan node sekitarnya. Isi pesan komunikasinya berupa pertanyaan, “Apakah disana mendeteksi getaran?”.  Dan di jawab oleh node sekitarnya, “Di sini tidak mendeteksi getaran”. Maka sistem EWAS menyimpulkan tidak ada gempa bumi; dan alarm tidak dibunyikan.

Ketika terdapat dua node yang mendeteksi getaran, sistem EWAS juga tidak menyimpulkan getaran tersebut bersumber dari gempa, meskipun kedua node tersebut terpisah sejauh 200 – 300 meter. Karena bisa jadi sumber getaran berasal dari iring-iringan kendaraan besar yang kebetulan melintas pada saat yang bersamaan di sekitar kedua node tersebut.

Sistem EWAS akan menyimpulkan kehadiran gempa bumi ketika terdapat minimal tiga node mendeteksi getaran di saat yang bersamaan. Node yang mendeteksi getaran akan mengirim pesan konfirmasi kepada node-node terdekat apakah disana juga mendeteksi getaran. Ketika diperoleh dua konfirmasi positif adanya getaran, maka sistem EWAS akan menyimpulkan bahwa gempa bumi sedang terjadi. Selanjutnya ketiga node akan mengirimkan sinyal perintah ke semua node agar semua node membunyikan alarm. Mekanisme seperti ini berlangsung dalam tempo kurang dari 5 (lima) detik. Suara alarm akan terdengar selama 1 (satu) menit. Begitu alarm berhenti, seluruh node langsung berada dalam posisi siaga mendeteksi getaran kembali. 

2. Smart Lamp Alarm Pendeteksi Gempa

teknologi atasi gempa
teknologi atasi gempa

lampu pendeteksi gempa bumi berbasis IOT menggunakan mikrokontroler arduino nano, sensor accelerometer dan sensor getar. Sensor accelerometer di gunakan untuk mendeteksi adanya pergerakan tanah yang memiliki keluaran berupa nilai koordinat x,y,z. Sensor getar di gunakan untuk mengetahui besar getaran yang bergetar pada tanah yang memiliki keluaran tegangan. Metode yang di gunakan pada pengembangan sistem ini adalah prototyping. Sistem ini mampu memberikan peringatan saat terjadi gempa dalam bentuk kedipan pada lampu dan bunyi yang di keluarkan oleh buzzer. Kemudian sistem di hubungkan dengan NodeMCU ESP8266, sehingga mampu mengirimkan besarnya gempa bumi dalam satuan skala richter dan skala intensitas mercalli ke aplikasi telegram ketika dalam kondisi >5SR. Parameter pada sistem ini adalah dengan mengolah nilai yang terbaca oleh sensor menggunakan rumus British Geological Survey dan mengacu pada tabel kondisi gempa bumi. Berdasarkan pengujian yang telah di lakukan, sensor accelerometer memiliki sensitivitas yang sesuai dengan ketentuan nilai dari data sheet dan sensor getar telah mendapatkan nilai tegangan yang sesuai dengan tekanan. Kemudian NodeMCU ESP8266 dapat terkoneksi dengan jaringan internet pada jarak hingga 5 meter hingga 30 meter. Waktu yang dibutuhkan untuk terkoneksi sekitar 185 ms hingga 222 ms

Sudah saatnya kita melek teknologi 4.0 salah satunya dengan mengikuti kursus IoT. Bersama Indobot Academy, Anda bisa belajar IoT dengan materi berbahasa Indonesia yang terstruktur dan terstandar industri. Untuk info lebih lanjut silahkan hubungi admin kami disini.

teknologi atasi gempa
teknologi atasi gempa

Klik Link di samping untuk klaim promo : klaimpromonya

Ingin Tahu Program Kami Lebih Lanjut?

Silahkan isi Formulir Dibawah Ini untuk Diskusi dengan Tim Indobot Academy.

Baca Juga

Bagikan:

Tinggalkan komentar

whatsapp whatsapp